Visi empat kekaisaran di bawah penguasaan surga, kejatuhan pemerintahan manusia dari Babel sampai Antikristus, serta Kristus sebagai batu yang terungkit yang akan memenuhi seluruh bumi.
Pembacaan Alkitab: Daniel 2:17-23, 31-35, 44-47
Kaum pemenang muda di Babel telah teruji di hadapan santapan raja, dikuduskan dari sistem Babel, dan diberi hikmat sepuluh kali lipat. Kemenangan iman dalam perkara makanan ini menjadi dasar bagi pelayanan mereka berikutnya.
Dalam pasal 2, Nebukadnezar mendapat mimpi tentang patung manusia besar. Seluruh orang bijaksana di Babel gagal memberitahukan mimpi itu beserta maknanya. Di tengah kegagalan hikmat manusia inilah Allah menyatakan penglihatan itu kepada Daniel dan sahabat-sahabatnya. Dari kesetiaan dalam perkara kecil, Allah memakai hamba-Nya untuk menyatakan kehendak-Nya dalam perkara besar.
Visi patung besar dalam Daniel 2 adalah visi utama untuk memahami seluruh kitab Daniel. Tanpa visi ini, umat Allah tidak sanggup memahami visi empat binatang dalam pasal 7, domba dan kambing jantan dalam pasal 8, maupun raja utara dan selatan dalam pasal 11.
Dalam mimpi itu Nebukadnezar melihat patung manusia besar: kepala emas, dada dan lengan perak, perut dan paha perunggu, kaki besi, serta kaki yang sebagian besi dan sebagian tanah liat. Menurut pandangan Allah hanya ada empat kekaisaran di sepanjang sejarah: Babel, Media-Persia, Yunani, dan Romawi. Seluruh patung itu adalah satu kesatuan Babel, mulai dari Nimrod yang mendirikan kota Babel (Kej. 10:9-10) hingga Antikristus sebagai kaisar terakhir Kekaisaran Romawi bersama sepuluh rajanya.
Di pandangan Allah tidak ada pemerintahan manusia yang netral, semuanya berada di bawah penguasaan surga dan terikat pada rencana kekal-Nya. Setiap pemerintahan manusia melakukan tiga hal yang sama: memberontak melawan Allah, meninggikan manusia, dan menyembah berhala (Kej. 11:4, 9).
Bagi kita hari ini visi ini mendesak. Seluruh sistem dunia sedang bergerak menuju penyelesaiannya. Pemerintahan manusia tidak akan diakhiri oleh revolusi atau gerakan politik, melainkan oleh Kristus sebagai batu yang terungkit. Kita harus sadar bahwa dunia bukan untuk kita; kita adalah bagi Kristus.
Nebukadnezar bermimpi tentang patung manusia besar (ay. 1). Sang raja lupa isi mimpinya, tetapi rohnya gelisah dan menuntut penjelasan. Ia memerintahkan semua ahli jampi, tukang sihir, dan orang Kasdim untuk memberitahukan mimpi itu beserta maknanya, namun mereka gagal total (ay. 10-11). Hikmat manusia tidak sanggup menyingkapkan ketetapan Allah mengenai sejarah manusia.
Karena tidak seorang pun dapat menjawab, raja murka dan memerintahkan membunuh semua orang bijaksana di Babel, termasuk Daniel dan kawan-kawannya (ay. 12-13). Kegagalan total sistem Babel ini membuka kenyataan bahwa hanya Allah yang empunya langit yang berkuasa menyatakan hal yang tersembunyi.
Berbeda dengan orang-orang bijaksana Babel, Daniel mengarahkan hatinya kepada perkara rohani yang berhubungan dengan tujuan Allah di bumi (ay. 17-18). Ia sendiri tidak bermimpi, melainkan menerima penglihatan dari Allah mengenai mimpi itu dan maknanya (ay. 19, 24-25).
Menghadapi ancaman maut, Daniel bertindak bijaksana: ia kembali ke rumahnya dan mengajak ketiga temannya memohon kasih sayang kepada Allah semesta langit (ay. 17-18). Penglihatan malam itu pun dinyatakan Allah kepada Daniel (ay. 19). Tanggapan Daniel adalah puji-pujian dan pengucapan syukur, mengakui bahwa kebijaksanaan dan kekuatan adalah milik Allah (ay. 20-23). Doa yang tekun membawa jawaban ilahi yang melampaui seluruh hikmat Babel.
Daniel dibawa menghadap raja. Sebelum menerangkan mimpinya, ia menegaskan bahwa penyingkapan ini bukan dari kepandaian dirinya, melainkan dari Allah semesta langit (ay. 25-30).
Patung itu melambangkan kumpulan pemerintahan manusia sepanjang sejarah, berkaitan langsung dengan empat binatang dalam Daniel 7:
Secara sejarah lahiriah kekaisaran kuno itu telah runtuh, tetapi menurut Alkitab kebudayaannya berlanjut sampai hari ini, terutama dalam hukum, politik, dan sistem pemerintahan Romawi. Bentuk akhirnya akan dipulihkan di bawah Antikristus bersama sepuluh rajanya (sepuluh jari kaki).
Untuk memahami Antikristus, Alkitab memberikan tiga gambaran: Nimrod dalam Kejadian, Antiokhus Epiphanes dalam Daniel, dan Titus yang menghancurkan Yerusalem tahun 70 Masehi, dengan definisi lengkap dalam kitab Wahyu. Orang beriman boleh melayani di tengah dunia sebagaimana Daniel di Babel, tetapi tidak boleh menjadi bagian dari sistemnya yang menuju penghakiman.
Daniel 2:34 menyatakan:
"Sementara tuanku melihatnya, terungkit lepas sebuah batu tanpa perbuatan tangan manusia, lalu menimpa patung itu, tepat pada kakinya yang dari besi dan tanah liat itu, sehingga remuk."
Batu ini terungkit tanpa tangan manusia karena digenapi oleh Allah melalui penyaliban dan kebangkitan Kristus. Dalam kematian-Nya Ia diletakkan pada penyaliban (Kis. 2:23), dan dalam kebangkitan-Nya Ia dijadikan batu penjuru bagi gereja serta batu yang meremukkan pemerintahan manusia (Kis. 2:24; Mat. 21:42).
Dalam Matius 21 Tuhan Yesus menyatakan tiga aspek Kristus sebagai batu:
Pada kedatangan-Nya, Kristus bersama para pemenang-Nya (Why. 19:7-9, 14) akan meremukkan sepuluh jari kaki dan mengakhiri seluruh agregat pemerintahan manusia.
Daniel 2:44 menyatakan:
"Tetapi pada zaman raja-raja, Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya." Daniel 2:35b menambahkan: "Tetapi batu yang menimpa patung itu menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi."
Batu yang menjadi gunung besar melambangkan perluasan Kristus. Dalam kehidupan, Kristus diperluas menjadi gereja; dalam pemerintahan, Ia diperluas menjadi kerajaan. Sebagaimana perumpamaan benih dalam Markus 4:26-29, benih hayat ilahi bertumbuh hingga menjadi kerajaan yang memenuhi seluruh bumi. Kristus adalah pusat dan keluasan pergerakan Allah: sebagai batu Dia adalah pusat, sebagai gunung Dia adalah keluasan.
Setelah penglihatan dan maknanya diterangkan, Nebukadnezar sujud menyembah Daniel, mempersembahkan korban dan bau-bauan, serta mengakui: "Sesungguhnyalah, Allahmu itu Allah yang mengatasi segala allah dan Yang berkuasa atas segala raja, dan Yang menyingkapkan rahasia-rahasia, sebab engkau telah dapat menyingkapkan rahasia itu" (ay. 46-47).
Raja mengangkat Daniel menjadi penguasa atas seluruh wilayah Babel dan kepala semua orang bijaksana. Atas permintaan Daniel, ketiga sahabatnya diangkat mengurus pemerintahan wilayah Babel, sementara Daniel tinggal di istana raja (ay. 48-49). Para tawanan ini ditinggikan di Babel bukan karena mengejar kekuasaan, melainkan karena bertekad menjaga kekudusan dan bersandar pada Allah dalam doa persekutuan.
Kita perlu jujur melihat posisi kita hari ini. Kebudayaan, roh, dan inti Kekaisaran Romawi terus berjalan, sementara tanda-tanda zaman menunjukkan kita berdiri sangat dekat dengan sepuluh jari kaki patung. Pemulihan akhir Babel dan kedatangan Kristus sebagai batu semakin dekat.
Satu beban rohani yang kita terima dari bagian ini adalah: jangan menaruh identitas dan pengharapan pada sistem mana pun, sekalipun tampak agung di mata manusia. Dunia bukan untuk kita; kita adalah bagi Kristus. Di tengah budaya Babel yang bergerak menuju akhirnya, kita dipanggil hidup berjaga-jaga, setia kepada Allah dalam perkara-perkara kecil, dan menyambut kedatangan-Nya sebagai batu yang terungkit yang akan memenuhi seluruh bumi.
Sumber: Pelajaran-Hayat Daniel, Berita 3 dan Berita 4
Selanjutnya di Bacaan & Teks
Kitab Daniel menyingkapkan rahasia jalannya sejarah manusia di bawah pemerintahan surga, bahaya penawanan dan asimilasi budaya Babel yang nyaman, serta ketetapan hati Daniel dan kawan-kawannya menolak santapan raja sebagai kaum pemenang.