Kitab Daniel menyingkapkan rahasia jalannya sejarah manusia di bawah pemerintahan surga, bahaya penawanan dan asimilasi budaya Babel yang nyaman, serta ketetapan hati Daniel dan kawan-kawannya menolak santapan raja sebagai kaum pemenang.
Pembacaan Alkitab: Daniel 1:1-21
Kitab Daniel menyingkapkan rahasia besar mengenai jalannya sejarah umat manusia. Pokok bahasan kitab ini mencakup ketetapan Allah atas Israel melalui tujuh puluh minggu, sejarah pemerintahan bangsa-bangsa di bumi, serta kedudukan Kristus sebagai pusat dan cakupan menyeluruh pergerakan Allah. Sejarah dunia dan sejarah umat pilihan tidak dapat dipahami secara benar tanpa terang kitab ini.
Pemikiran sentral dalam Daniel adalah pemerintahan surga oleh Allah yang memiliki surga atas seluruh pemerintahan manusia di bumi, selaras dengan rencana kekal-Nya. Seluruh kumpulan kekuasaan manusia, mulai dari Nimrod yang membangun Babel (Kej. 10) sampai Antikristus sebagai kaisar terakhir Kekaisaran Romawi pada akhir zaman, berada di bawah ketetapan takhta surga. Kristus telah datang pertama kali untuk mengakhiri ciptaan lama melalui kematian-Nya yang mencakup segalanya dan menumbuhkan ciptaan baru dalam kebangkitan-Nya. Kelak, Kristus akan datang kembali secara terbuka sebagai batu yang terungkit tanpa perbuatan tangan manusia untuk meremukkan seluruh pemerintahan manusia dari kaki sampai kepalanya, lalu mendirikan kerajaan kekal Allah yang memenuhi bumi.
Bagi kita hari ini, kaitan kitab Daniel sangat mendesak. Kita hidup di masa jeda dalam sejarah, yaitu zaman gereja atau zaman misteri di antara enam puluh sembilan pekan pertama dan pekan terakhir. Sebagaimana kita melihat situasi ini, kita harus bangun dan menyadari bahwa dunia bukan untuk kita. Kita adalah bagi Kristus, dan setiap hari harus mempersiapkan diri untuk menyongsong kedatangan-Nya.
Kitab ini dibuka dengan peristiwa kelam dalam sejarah bangsa Yehuda. Pada tahun ketiga pemerintahan raja Yoyakim, Nebukadnezar datang mengepung Yerusalem. Ayat dua mencatat penegasan penting: "Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangannya." Bangsa pilihan tidak jatuh semata-mata karena kalah perang, melainkan diserahkan oleh Allah sendiri sebagai akibat nyata dari kemerosotan panjang umat-Nya.
Ada perbedaan mendasar antara penjajahan dan penawanan. Dalam penjajahan, musuh menduduki tanah air tetapi rakyat masih tinggal di negerinya sendiri dengan adat dan rumah ibadahnya. Namun dalam penawanan, umat Allah dicabut dari akarnya, dipisahkan dari Bait Allah dan tanah perjanjian, lalu diangkut ribuan kilometer ke jantung wilayah penyembahan berhala. Bangsa Israel dibawa kembali ke tanah Sinear, daerah Ur-Kasdim, yaitu tempat asal berhala di mana nenek moyang mereka, Abraham, dahulu dipanggil keluar oleh Allah. Kemerosotan rohani telah membawa mereka berputar kembali ke sarang berhala masa lalu.
Penawanan ini menjadi kerusakan paling puncak atas kesaksian umat Allah dalam penyembahan terhadap Yehova yang unik. Perkakas-perkakas kudus Bait Suci diangkut dan ditaruh di dalam kuil dewa Nebukadnezar.
Satan memahami bahwa ancaman terbesar bagi seorang tawanan bukanlah siksaan pedang, melainkan larut dalam budaya sekitar yang nyaman. Di Babel, Nebukadnezar memilih orang-orang muda terbaik dari keturunan bangsawan Yehuda yang tidak ada cela, berperawakan baik, dan cerdas, untuk dididik selama tiga tahun dalam kesusastraan Kasdim agar kelak bekerja di istana. Di antara mereka terdapat Daniel, Hananya, Misael, dan Azarya, empat pemuda pilihan dari sisa umat yang kalah.
Pencobaan pertama iblis kepada manusia selalu berkaitan dengan makanan (Kej. 3). Nebukadnezar menetapkan bagi mereka makanan pilihan dari santapan raja dan anggur yang biasa diminumnya. Hidangan mewah istana ini sesungguhnya adalah makanan jahat yang najis, karena menurut tradisi Babel, santapan raja telah dipersembahkan terlebih dahulu kepada berhala-berhala.
Bagi Daniel dan kawan-kawannya, di dalam istana Babel sesungguhnya berdiri dua pohon. Santapan pilihan raja adalah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, sesuatu yang berdampingan dan bersatu dengan Satan. Memakan makanan itu berarti mengambil Satan sebagai suplai hidup, bersekutu dengan berhala, dan menjadi satu dengan sistem Babel. Sebaliknya, memilih sayur-sayuran dan air putih adalah mengambil pohon hayat, sesuatu yang berdampingan dan bersatu dengan Allah. Hal ini sangat relevan bagi orang beriman hari ini. Jika kita tidak berhati-hati dalam apa yang kita konsumsi, apa yang kita tonton, bagaimana kita berbelanja, dan gaya hidup apa yang kita ikuti di tengah sistem dunia modern, sesungguhnya kita sedang menelan santapan Babel dan menjadi satu dengan dunia.
Nebukadnezar juga berupaya melunturkan pengenalan mereka akan Allah dengan mengubah nama-nama Ibrani mereka:
Musuh ingin agar para tawanan ini melupakan tanah air surgawi mereka dan melebur sepenuhnya dengan orang kafir.
Bila generasi muda di Babel ini menyerah pada kenyamanan istana dan mengikuti langkah bapa leluhur mereka, kesaksian Allah di bumi akan terputus sepenuhnya. Namun, Daniel tahu bahwa ia berada di tanah penawanan; kemewahan Babel bukan rumahnya, dan santapan kaisar bukan miliknya.
Daniel 1:8 menyatakan: "Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang diminum raja." Daniel berperang di medan pertempuran rohani dengan mengalahkan pencobaan iblis melalui penolakan yang berani. Daniel tidak bermain politik, tidak mencari kompromi duniawi, melainkan berterus terang dan bersandar pada Allah.
Allah menghargai ketetapan hati Daniel dan membuat dia beroleh kasih karunia serta belas kasihan di mata pemimpin pegawai istana. Ketika pejabat tersebut merasa khawatir bahwa penampilan fisik Daniel dan kawan-kawannya akan memburuk sehingga membahayakan keselamatannya di hadapan raja, Daniel menawarkan jalan pengujian yang bijaksana: berikanlah sayur untuk dimakan dan air untuk diminum selama sepuluh hari, lalu bandingkan hasilnya dengan orang-orang muda yang menikmati hidangan istana. Daniel mempertaruhkan seluruh masa depannya pada suplai pemeliharaan Allah.
Setelah sepuluh hari pengujian, perawakan Daniel dan ketiga sahabatnya justru tampak lebih segar, lebih baik, dan lebih gemuk daripada semua pemuda yang makan dari santapan pilihan raja. Pengawas mereka akhirnya melenyapkan santapan istana dan secara tetap memberi mereka sayur-sayuran.
Peristiwa ini menyingkapkan kenyataan rohani yang agung:
Di mata orang yang hanya melihat dari luar, pembuangan ke Babel membuat Allah seolah-olah dikalahkan. Namun, sebenarnya Allah memelihara penyembah dan kesaksian-Nya melalui segelintir pemenang muda di antara sisa umat yang kalah. Demikian pula di zaman ini, di tengah kemerosotan umum dunia kekristenan, Allah tidak memandang organisasi yang tampak besar, melainkan mencari orang-orang yang berdiri sebagai kaum pemenang.
Kemenangan empat orang muda ini memberi dasar bagi Allah untuk berbangga kepada Satan.
Allah mengesahkan peperangan iman hamba-hamba-Nya dengan berkat rohani yang melimpah:
Kepada keempat pemuda ini, Allah mengaruniakan pengetahuan, pengertian dalam berbagai kesusastraan, dan hikmat. Kepada Daniel secara khusus diberikan karunia memahami segala macam penglihatan rohani dan mimpi. Ketika Nebukadnezar menguji mereka setelah tiga tahun pendidikan, sang raja mendapati bahwa kecakapan mereka sepuluh kali lebih cerdas daripada semua orang berilmu dan ahli jampi di seluruh kerajaannya.
Pasal ini diakhiri dengan catatan yang sangat dalam: "Daniel ada di sana sampai tahun pertama pemerintahan raja Koresy." Allah memberkati Daniel dengan panjang umur melampaui tujuh puluh tahun masa penawanan. Daniel menyaksikan kaisar demi kaisar mati, kekaisaran Babel runtuh digantikan oleh kekaisaran Media-Persia, hingga fajar keluarnya perintah Koresy yang memulangkan sisa tawanan ke Yerusalem untuk membangun kembali Bait Allah (Ezr. 1:1-5). Kuasa duniawi silih berganti, tetapi hamba Allah yang hidup murni dan sadar akan status penawanannya tetap berdiri teguh di bawah pemerintahan surga sampai tujuan Allah digenapi.
Kitab Daniel menunjukkan bahwa pemerintahan surga memegang kendali atas semua pemerintahan manusia, bahkan atas penawanan umat Allah ke Babel. Bahaya terbesar bukanlah siksaan, melainkan larut dalam budaya Babel yang nyaman, mulai dari makanan sampai nama. Daniel dan ketiga sahabatnya menang karena berketetapan hati untuk tidak menajiskan diri dan bersandar pada Allah. Allah pun memelihara mereka, mengaruniakan hikmat, dan mengakui kesetiaan mereka, bahkan membuat Daniel bertahan melewati pergantian kekaisaran. Karena itu, mari kita sadar bahwa dunia ini bukan untuk kita, berjaga-jaga terhadap santapan Babel setiap hari, dan hidup sebagai kaum pemenang yang menyongsong kedatangan Kristus.
Sumber: Pelajaran-Hayat Daniel, Berita 1 dan Berita 2